BREAKING NEWS
IKLAN ATAS970×90320×50
Humanis

Dua Kaki, Secangkir Kopi, dan Restu Langit

Ada malam-malam di mana bumi terasa berputar begitu lambat, sementara kepala kita berputar begitu cepat. Di jam-jam ketika dunia lelap dalam sunyi, seorang laki-laki terjaga. Di hadapannya hanya ada secangkir kopi yang mengepulkan uap tipis dan sebatang rokok yang menyala dalam gelap. Teman setia bagi mereka yang sedang berdamai dengan lelah.

Di luar sana, orang-orang melihatnya sebagai seorang abdi negara, seorang kepala keluarga, atau barangkali sosok yang tampak tegar berjalan di atas trotoar kehidupan. Tapi tidak ada yang tahu, di dalam rongga dada, ada badai yang menderu hebat. Jiwa sempat terasa seperti hilang, tersapu ombak tinggi dari himpitan ekonomi yang menuntut kepastian di tengah dompet yang kosong dan cicilan yang mengantre.

Di titik terendah itu, akal manusia diuji hingga ke batas rasionalitas. Ada rasa penat yang membuncah, mempertanyakan arti dari kesadaran dan beban hidup. Mengapa harus ada rasa? Mengapa pikiran harus diciptakan serumit ini, sementara di luar sana ada jiwa-jiwa yang tampak bebas tanpa beban? Pikiran itu datang bukan karena kurang iman, melainkan karena lelah yang teramat sangat—lelah menahan harga diri, lelah menjadi kuat bagi anak dan istri.

Namun, di tengah retaknya pertahanan itu, ada satu jangkar yang tidak pernah putus: dua kaki yang dipaksa terus melangkah.

Meskipun otot-otot terasa ngilu dan pundak rasanya hampir patah menanggung beban dunia, langkah itu tidak boleh berhenti. Sebab di belakangnya ada rumah yang harus tetap terang, ada senyum anak yang menanti, dan ada doa seorang ibu yang senantiasa menembus langit malam.

Doa seorang ibu adalah benteng yang tidak kasat mata. Setiap bisikkan tulus di sepertiga malam dari seorang ibu yang merestui perjuangan anaknya, adalah bahan bakar paling murni yang membuat kaki seorang lelaki sanggup menapak tanah berbatuan terjal.

Dan di atas segalanya, ada satu nama tempat berpulang: Allah SWT.

Ketika semua pintu dunia seakan tertutup, ketika logika manusia menemui jalan buntu, dan ketika modal materi tak lagi bersisa, kepada-statistik-Nya lah air mata itu tumpah. Bahwa segala kepahitan hari ini, kekosongan di dompet, dan beratnya himpitan hidup bukanlah sebuah kehancuran, melainkan ketetapan Tuhan yang pasti menyimpan hikmah di balik batas kesanggupan hamba-Nya.

Wahai diri yang sedang terjaga di keheningan malam… Jangan pernah merasa kalah hanya karena hari ini engkau berada di titik paling bawah. Ingatlah, tanah yang paling padat dan kokoh untuk dijadikan pijakan melompat ke atas adalah dasar jurang yang paling dalam.

Habiskan kopimu. Kepulan asap rokok itu akan hilang terbawa angin, tapi ketegaran yang engkau ukir malam ini akan abadi. Engkau belum kalah. Selama dua kaki itu masih mampu melangkah, selama doa ibu masih mengawal, dan selama Allah masih menjadi tempat mengadu, cerita hidupmu belum selesai. Ia baru saja dimulai dengan babak yang paling jujur, paling kuat, dan paling manusiawi.

Bagikan Artikel
Kategori: Humanis