BREAKING NEWS
IKLAN ATAS970×90320×50
Daerah

Banjir hingga Kebakaran Mengintai, Kuningan Perkuat Mitigasi Bencana

Voster.Id | KUNINGAN – Ancaman bencana di Kabupaten Kuningan semakin beragam. Banjir, longsor, pergerakan tanah hingga kekeringan dan kebakaran lahan menjadi risiko yang perlu diantisipasi seiring perubahan kondisi cuaca dan lingkungan.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kuningan memperkuat kapasitas aparatur dan relawan penanggulangan bencana melalui Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Bencana bagi Pegawai BPBD Kabupaten Kuningan dan Relawan Penanggulangan Bencana.

Kegiatan yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan itu dibuka Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar, di kawasan Wisata Talaga Surian, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Jumat (25/9).

Sekitar 160 peserta mengikuti pelatihan yang berlangsung selama satu hari, mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari BPBD Provinsi Jawa Barat, BMKG, dan Basarnas.

Bupati Dian mengatakan, penanggulangan bencana tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat, relawan, komunitas hingga berbagai unsur lainnya menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan.

“Kita hari ini mungkin tidak banyak berbicara tentang potensi, tapi tentang ancaman dan tantangan yang harus kita hadapi bersama. Persoalan ini bukan persoalan pemerintah semata, tapi persoalan kita bersama,” ujar Dian.

Menurutnya, kondisi geografis, geologis, klimatologis dan kependudukan Kabupaten Kuningan membuat wilayah tersebut menghadapi tantangan kebencanaan yang cukup kompleks.

Pada musim penghujan, masyarakat perlu mewaspadai longsor, pergerakan tanah dan banjir. Sementara ketika memasuki musim kemarau, ancaman kekeringan serta kebakaran lahan dan hutan semakin perlu diperhatikan.

Dian menyebut, perubahan kondisi tersebut terlihat dari munculnya banjir di sejumlah wilayah yang sebelumnya relatif jarang mengalami kejadian serupa.

“Semakin hari potensi ini semakin meningkat eskalasinya,” katanya.

Selain memperkuat kemampuan menghadapi bencana, Dian juga mengapresiasi peran BPBD, Damkar, relawan, pegiat lingkungan dan komunitas yang selama ini turut membantu masyarakat ketika terjadi bencana maupun kondisi darurat.

Di tengah keterbatasan anggaran dan sarana prasarana, menurutnya, semangat kemanusiaan para relawan tetap menjadi kekuatan penting dalam penanggulangan bencana.

“Dengan keterbatasan sokongan anggaran yang ada, sarana prasarana yang kita punya memang terbatas, tapi tidak mematahkan, tidak menyurutkan semangat kawan-kawan untuk berjuang sebagai tenaga yang bersifat kemanusiaan,” ungkapnya.

Dian juga menyoroti kondisi kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober. Cuaca kering yang berkepanjangan dinilai berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran lahan dan hutan.

Ia menyebut sejumlah titik kebakaran kembali muncul, termasuk di kawasan lereng Gunung Ciremai dan lahan milik masyarakat.

Karena itu, Dian meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan dan mencegah aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Ia juga mengingatkan bahwa pembakaran yang dilakukan dengan sengaja dan kemudian merembet hingga menimbulkan kerugian lebih luas dapat ditindak melalui jalur hukum.

“Kalau terjadi pembakaran disengaja yang merembet ke wilayah yang lain, mungkin dari aparat penegak hukum juga akan mengambil langkah tegas,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dian turut mendorong semakin luasnya keterlibatan masyarakat dalam persoalan kebencanaan. Menurutnya, jumlah penduduk Kuningan yang mencapai sekitar 1,2 juta jiwa merupakan potensi besar untuk memperkuat sistem kesiapsiagaan.

“Dari sekitar 1,2 juta penduduk Kuningan, bisa saya bayangkan misalnya satu persen saja yang militan, yang betul-betul sangat cinta terhadap persoalan ini, saya kira ini sangat terbantu,” ujarnya.

Melalui pelatihan tersebut, Pemkab Kuningan berharap kapasitas pegawai BPBD dan relawan semakin meningkat, baik dalam aspek pencegahan, mitigasi maupun respons ketika bencana terjadi.

Dian menegaskan, menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks membutuhkan kerja bersama. Kesiapsiagaan tidak hanya dibangun ketika bencana datang, tetapi harus dipersiapkan sejak dini melalui peningkatan pengetahuan, kewaspadaan dan kemampuan masyarakat dalam mengurangi risiko bencana.

./AS

Bagikan Artikel
Kategori: Daerah