Api Belum Benar-Benar Pergi, Karhutla Kembali Menguji Indonesia

Asap kembali menjadi pemandangan di sejumlah wilayah Indonesia. Di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering, kebakaran hutan dan lahan masih menjadi ancaman yang harus diwaspadai. Pemantauan Kementerian Kehutanan menunjukkan jumlah titik panas (hotspot) masih bergerak naik-turun dalam beberapa hari terakhir. Hingga 24 September 2026 pukul 21.15 WIB, tercatat 575 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di berbagai wilayah Indonesia.
Sehari sebelumnya, jumlahnya berada di angka 344 titik. Perubahan angka tersebut menunjukkan bahwa situasi di lapangan masih dinamis. Titik panas yang terdeteksi satelit memang tidak serta-merta berarti terjadi kebakaran. Namun, data itu menjadi peringatan awal yang mendorong petugas melakukan pengecekan dan penanganan di lapangan.
Dari kondisi nasional tersebut, perhatian kemudian mengarah ke sejumlah wilayah yang mengalami peningkatan titik panas. Salah satunya Kalimantan Tengah.
Pada periode pemantauan yang sama, terdapat 261 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di provinsi tersebut. Jumlah itu meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 156 titik. Peningkatan tersebut membuat penanganan di lapangan terus diperkuat. Petugas bergerak melakukan pemadaman dari darat, sementara patroli dan pemantauan udara dilakukan untuk mengetahui perkembangan titik api. Di lokasi yang sulit dijangkau, operasi water bombing menjadi salah satu cara yang digunakan untuk membantu menjatuhkan air langsung ke kawasan yang terbakar. Pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca ketika kondisi meteorologis memungkinkan.
Meski begitu, memadamkan api bukan berarti persoalan langsung selesai. Ada tantangan lain yang sering tidak terlihat dari permukaan.
Di kawasan gambut, misalnya, api dapat merambat di bawah permukaan. Dari atas, sebuah kawasan mungkin tampak sudah aman setelah api tidak lagi terlihat. Namun, bara dapat masih tersimpan di dalam tanah dan kembali muncul ketika kondisi mendukung. Karena itu, setelah api berhasil dipadamkan, petugas masih harus melakukan pendinginan dan patroli untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menjadi titik api.
Bukan Sekadar Titik di Peta
Apa yang terlihat sebagai angka dan titik di layar pemantauan, di lapangan bisa menjadi persoalan yang jauh lebih besar.
Bagi masyarakat yang tinggal dekat kawasan hutan dan lahan terbakar, karhutla bukan sekadar angka dalam laporan harian. Asap dapat mengganggu aktivitas, menurunkan jarak pandang dan memengaruhi kualitas udara. Dalam kondisi tertentu, masyarakat harus mengurangi kegiatan di luar ruangan. Dampaknya tidak berhenti pada manusia. Ketika hutan terbakar, vegetasi ikut hilang dan habitat satwa terganggu. Ekosistem yang terbentuk selama bertahun-tahun dapat mengalami kerusakan dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Karena dampaknya meluas, penanganan karhutla pun tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Upaya pencegahan justru menjadi bagian penting dari rangkaian penanganan.
Masyarakat diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat membesar ketika bertemu lahan kering dan angin. Pelaporan dini juga menjadi penting. Semakin cepat sebuah titik api diketahui, semakin besar peluang kebakaran dapat ditangani sebelum meluas.
Pekerjaan yang Tidak Selesai Ketika Api Padam
Di sinilah tantangan berikutnya muncul. Memadamkan api adalah satu tahap, tetapi memastikan api tidak kembali menjadi persoalan lain.
Pemerintah bersama aparat, BPBD, Manggala Agni, pemadam kebakaran dan masyarakat terus melakukan pengendalian di wilayah rawan karhutla. Namun, pekerjaan pencegahan sebenarnya berlangsung jauh sebelum asap terlihat. Menjaga lahan tetap terkelola, mengawasi kawasan rawan, memastikan tidak ada pembakaran sembarangan dan meningkatkan kesadaran masyarakat merupakan bagian dari upaya yang tidak kalah penting. Sebab ketika api sudah membesar, penanganannya menjadi jauh lebih sulit. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan oleh kawasan yang terbakar, tetapi juga masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
Pada akhirnya, karhutla bukan persoalan yang dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.
Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam pengawasan dan penanganan. Pemerintah daerah berperan dalam pencegahan di wilayahnya. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga lahan dan melaporkan potensi kebakaran sejak dini.
Di layar pemantauan, kebakaran mungkin hanya terlihat sebagai sebuah titik. Tetapi di lapangan, satu titik itu bisa berarti hutan yang terbakar, satwa yang kehilangan habitat, udara yang tercemar dan warga yang harus berhadapan dengan asap. Karena itu, sebelum bertanya berapa banyak api yang berhasil dipadamkan, ada pertanyaan yang tidak kalah penting:
berapa banyak api yang berhasil kita cegah agar tidak pernah muncul?
Pertanyaan tersebut menjadi pekerjaan bersama Indonesia menghadapi musim rawan karhutla 2026.
