BREAKING NEWS
IKLAN ATAS970×90320×50
Gagasan

Satu Meja, Satu Komitmen: Bupati Dian dan Ketua Golkar Asep Bicara Kuningan dari Hati


Voster.id | KUNINGAN,- Ngobrol santai antara insan pers, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., dan Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Kuningan, Asep Setia Mulyana dikemas dalam suasana santai, berbincang dan bertukar pandangan mengenai berbagai persoalan yang berkembang di Kabupaten Kuningan. kegiatan “Ngobrol Santai” dengan tema “Satu Meja, Satu Komitmen, Merawat Kebersamaan, Membangun Kuningan”. digelar oleh Pokja Wartawan Polres Kuningan di Teras Mahar Jumat (25/9/2026).


Tema yang diangkat cukup sederhana, tetapi memiliki pesan yang kuat Dari meja itulah berbagai hal dibicarakan. Mulai dari komunikasi antara pemerintah daerah dan partai politik, perjalanan pemerintahan setelah Pilkada 2024, peran pers, hingga bagaimana menjaga kebersamaan di tengah dinamika politik dan pembangunan daerah.


pertemuan tersebut bukan sekadar acara seremonial. Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan tiga unsur yang memiliki posisi penting dalam kehidupan daerah: pemerintah, kekuatan politik, dan pers. Hadirnya Bupati Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si dan Asep Setia Mulyana sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Kuningan dan sekaligus salah satu figur penting yang terlibat dalam perjalanan politik Pilkada Kuningan 2024.


Salah satu pembahasan menarik perhatian yaitu mengenai dinamika disharmonisasi komunikasi antara Bupati Dian dan Asep Setia Mulyana yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan publik. Asep mengakui bahwa seiring perjalanan keduanya memang mengalami dinamika komunikasi Namun, ia menegaskan bahwa dinamika komunikasi tidak berarti hubungan terputus. Komunikasi tetap berjalan, baik secara langsung maupun melalui berbagai sarana komunikasi. Menurut Asep, kesibukannya sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kuningan yang juga banyak melakukan aktivitas di luar daerah membuat intensitas pertemuan secara langsung dengan Bupati Dian tidak selalu seperti pada masa awal pemerintahan. “Saya kan banyak kegiatan di Jakarta dan Bandung. Biasanya saya di Kuningan Sabtu dan Minggu,” katanya.


Dalam forum tersebut, Asep juga menyampaikan bahwa Partai Golkar tetap memberikan dukungan terhadap berbagai program Pemerintah Kabupaten Kuningan. Dukungan itu, menurutnya, tidak hanya dalam bentuk komunikasi politik, tetapi juga melalui kontribusi dan fasilitasi program yang bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat. Ia mencontohkan dukungan terhadap sejumlah perangkat daerah dalam pelaksanaan program, termasuk berkaitan dengan alat kontraktor, pengembangan sumber mata air dan irigasi, serta bidang kesehatan. “Kami membantu beberapa dinas untuk mewujudkan programnya. Ini dalam rangka mewujudkan program bupati. Partai Golkar hadir dan turut berjuang,” ujar Asep.


Di sisi lain, keberadaan wartawan dalam forum tersebut memberikan warna tersendiri. Pers tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang mencari berita, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah, partai politik dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pandangan Bupati Dian dalam berbagai kesempatan mengenai pentingnya peran pers dalam kehidupan pemerintahan dan masyarakat. Pada kegiatan Jambore Wartawan 2025, misalnya, Dian menyebut jurnalis memiliki fungsi penting dalam menghubungkan pemerintah dengan masyarakat, termasuk melalui fungsi kontrol sosial, edukasi dan penyebarluasan potensi daerah.


Ada pesan menarik dari tema yang dipilih Pokja Wartawan Polres Kuningan. Satu meja tidak berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Pemerintah memiliki tanggung jawab pemerintahan. Partai politik mempunyai fungsi politik dan representasi kepentingan masyarakat. Sementara pers memiliki fungsi jurnalistik dan kontrol sosial. Perbedaan fungsi tersebut justru merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Yang diperlukan adalah komunikasi yang sehat, saling menghormati dan kesediaan untuk menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan kelompok. Dalam konteks Kuningan, pesan tersebut menjadi relevan karena pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan banyak pihak.


Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Partai politik tidak bisa hanya bekerja pada momentum politik. Pers juga tidak cukup hanya memberitakan persoalan tanpa ikut membangun ruang dialog yang sehat. Ketiganya memiliki ruang masing-masing. Adanya kegiatan “Ngobrol Santai” bukan hanya tentang Bupati Dian dan Asep Setia Mulyana. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menyampaikan pesan bahwa Kuningan membutuhkan ruang komunikasi yang terbuka. Ruang di mana pemerintah bisa menjelaskan kebijakan. Ruang di mana partai politik bisa menyampaikan gagasan dan kritik. Ruang di mana wartawan dapat bertanya secara bebas dan masyarakat mendapatkan informasi yang utuh. Sebab membangun daerah sebesar Kabupaten Kuningan membutuhkan energi bersama.


Kepentingan politik boleh berbeda. Cara pandang boleh tidak selalu sama. Kritik tetap harus diberikan. Pemerintah tetap harus diawasi. Namun semuanya dapat ditempatkan dalam satu tujuan yang lebih besar: memastikan masyarakat Kuningan mendapatkan pemerintahan yang bekerja dan pembangunan yang memberikan manfaat. Dari satu meja, setidaknya muncul satu pesan sederhana: Kuningan tidak cukup hanya dibangun dengan program. Kuningan juga membutuhkan komunikasi, kepercayaan dan kebersamaan.


Dan ketika pemerintah, partai politik serta pers bersedia duduk bersama, mendengar dan berbicara secara terbuka, maka meja kecil tempat mereka berdiskusi itu dapat menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar: komitmen bersama untuk merawat Kuningan dan membangun masa depannya.

./Sulis

Bagikan Artikel
Kategori: Gagasan