BREAKING NEWS
IKLAN ATAS970×90320×50
Daerah

H Rokhmat Ardiyan Dorong Inovasi Pengelolaan Sampah di Kuningan

Voster.id | KUNINGAN.- Persoalan sampah di Kabupaten Kuningan membutuhkan penanganan serius melalui inovasi pengolahan yang melibatkan masyarakat hingga tingkat desa. Selain mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA), sampah juga dinilai memiliki potensi ekonomi apabila dikelola dengan tepat.

Anggota DPR RI Komisi XII Fraksi Gerindra, H Rokhmat Ardiyan MM, mendorong pemerintah desa dan masyarakat untuk mengembangkan berbagai inovasi pengolahan sampah, mulai dari pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna.

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Penanganan Sampah bertema Kedaruratan Pengelolaan B3 dan/atau Pengelolaan Limbah B3, bersama Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, di Aula Meeting Room Arunika Eatery, Kuningan, Sabtu (7/11).

H Rokhmat Ardiyan akrab disapa HRA mengatakan, volume sampah di Kabupaten Kuningan mencapai lebih dari 400 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ton dapat diangkut, sementara sisanya membutuhkan penanganan melalui berbagai metode pengolahan.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah daerah. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting, terutama dengan membangun kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga.

“Penanganan sampah harus dimulai dari rumah tangga, dari RT, RW sampai desa. Kita harus punya kesadaran bersama bagaimana persoalan sampah ini bisa ditangani secara serius,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah daerah dan negara yang telah berhasil mengembangkan inovasi pengolahan sampah. Singapura dan Jepang, misalnya, memanfaatkan sampah untuk menghasilkan energi listrik. Sementara Kabupaten Banyumas mengolah sampah menjadi paving block.

HRA menilai, Kabupaten Kuningan memiliki peluang mengembangkan berbagai inovasi serupa. Bahkan, sejumlah desa sudah mulai melakukan pengolahan sampah secara mandiri, termasuk memanfaatkan sampah organik untuk budidaya maggot dan pembuatan pupuk.

Selain sampah rumah tangga, ia juga menyoroti potensi pemanfaatan minyak jelantah yang selama ini banyak dihasilkan masyarakat. Rokhmat berencana mendorong kerja sama dengan kelompok PKK untuk menyediakan tempat penampungan minyak jelantah di desa-desa.

Minyak jelantah tersebut nantinya akan diupayakan untuk disalurkan kepada Pertamina sebagai bahan baku avtur. Hasil penjualannya diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan mendukung kesejahteraan lingkungan RT maupun RW.

“Kita buatkan penampungannya, kemudian minyak jelantah ini bisa kita jual kepada Pertamina untuk menjadi bahan baku avtur. Hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengolahan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuningan, H Andi SE, mengungkapkan timbulan sampah di Kuningan mencapai sekitar 485 ton per hari. Namun, baru sekitar 40 persen yang berhasil dikelola, sedangkan 60 persen lainnya masih belum tertangani.

Ia menyebutkan, sampah yang belum terkelola masih ditemukan di lahan warga, pinggir jalan hingga sungai. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama, terlebih kapasitas TPA Kuningan saat ini sudah hampir mengalami kelebihan daya tampung.

Andi juga menjelaskan bahwa Kuningan tengah menjalani pemantauan dan penilaian Adipura. Karena itu, pengelolaan sampah dari sumbernya menjadi salah satu hal yang perlu diperkuat.

DLH mendorong masyarakat mulai memilah sampah berdasarkan jenisnya, yakni organik, anorganik dan sampah yang mengandung B3. Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.

“Targetnya, apabila upaya tersebut dapat diterapkan di tingkat desa, sampah residu yang dibuang ke TPA hanya sekitar 20 persen. Sementara saat ini masih sekitar 75 persen sampah yang masuk ke TPA,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan muncul inovasi dan langkah konkret dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Kuningan. Sinergi pemerintah, masyarakat dan berbagai pihak dinilai penting agar sampah tidak lagi menjadi persoalan lingkungan, tetapi dapat diolah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat ekonomi. (AS)

Bagikan Artikel
Kategori: Daerah